Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, October 4, 2015

PUISI: EMBUN RINDU

Embun Rindu


Pagi tlah menjelang
Bayangmu tak jua datang

Aku masih saja
Memandang jendela berpeluk luka
(maaf aku lupa kita tak punya jendela)


Waktu enggan merangkak
Menggendong aroma rindu
Bersama titik embun mengadu
Berharap asa tak lagi terserak

Esok sayap-sayap cinta
Mentari kan memagut
Melesatkannya dalam tiada

Pagi ini kutiupkan kepulan rindu
Dalam cangkir kopimu

Jonggol, 04/10/2015

Tuesday, September 15, 2015

PUISI : SEMUA

Semua

Entah kenapa semua
yang kutulis
selalu tentangmu


Semua kerinduan
semua kebencian
semua sakit
semua rasa
semua aksara
semua kisah

Bermuara padamu
cinta?

Friday, September 11, 2015

SEPOTONG SAJAK UNTUK SIMBOK

Karya: Umi S. Sodwidjo

Bukan boneka barbie atau cupcake
hanya kue lapis dan onde-onde
yang selalu kau belikan setiap pulang pasar
atau sepotong daging kambing berbungkus daun jati

Bukan dentingan piano
atau desiran dawai biola
tapi ketiplak bunyi sendal jepit
yang biasa kau pakai

Bukan gaun mahal
atau kebaya anne avantie
hanya kain batik usang
yang selalu kau buat kemulan

Bukan bedcover mahal pengusir dingin
tapi keriangan depan api tungku
menunggu ubi matang dari benaman
penghangat hatiku

Masih terngiang jelas
waktu kau bacakan kisah raden ajeng kartini
atau dongeng timun emas
di sore yang bermandikan gerimis

Masih tergambar di mataku
waktu kau kecup jemari
saat ani-ani menggores jari kecilku
waktu pertama ikut panen padi

atau saat kau marah
waktu aku seharian tak pulang
asyik menyusuri sungai
bersenjata pancing dan akar tuba
berharap mendapat sebakul ikan

atau saat kita memancing bersama
menangkap segenggam cacing
selalu kautugaskan padaku
lalu kita dengan sabar menunggu
lonjakan ikan di mata kail
lauk makan kita malam nanti

Ah.. terlalu banyak kenangan manis
yang bisa kuingat darimu
takkan bisa kusebut satu persatu
karena kaulah Simbokku...
Ibu terhebat di dunia

Jonggol, 22 Des 2014

Tuesday, September 8, 2015

Duduklah di Sampingku


Karya: Umi S. Sodwijo

Ini adalah surat kedua yang kutulis untukmu, yang terpilih dan terkasih. Walau kau tak membalasnya, aku yakin kau pasti membaca. Mungkin angin musim dingin tlah membisikkannya untukmu.

Aku hanya ingin berterima kasih. Karna tlah kau ajarkan aku sastra, cinta dan kehidupan. Juga tentang arti memiliki, kehilangan dan perpisahan. Demikian pula tentang luka dan penyembuhan diri.

Di kamarku masih tersimpan rapi, buku-buku yang kau kirimkan dulu, dengan puisi di halaman pertamanya. Lalu berpuluh-puluh email kita bergumul. Mengeja larik demi larik. Kau bilang kisah kita seperti may ziadah dan kahlil gibran. Sedang aku berharap seperti Siti Fatimah dan Sayyidina Ali.

Lalu kubalas dengan gitanjali. Kemudian, seperti biasa, kita bercengkrama di dunia maya. Tentang indahnya sejuta rasa sang pujangga.

Kadang terasa kita masih duduk bersama. Pada pertemuan pertama kita. Di teras rumahmu, di bawah cahaya bulan. Ditingkah gemersik daun bambu. Kau bercerita tentang bima yang menyelami samudera tak bertepi. Mencari tirta pawirta sari. Menurutmu kedalaman jiwa tak pernah bisa terselami. Pun luasnya tak bertepi.

Kini kumulai bisa. Merangkai abjad menjadi aksara. Aksara menjadi larik. Larik menjelma bait puisi. Ah, itu takkan seindah gitanjali. Karna tiap aksara yang kutulis hanya mampu mengeja namamu.

Menurutmu selalu, perjumpaan dua jiwa lebih penting. Dari pertemuan dua raga. Apakah salah, jika suatu saat kita bersua? Mungkin di tepi telaga menjer? Kita bisa berkejaran menuruni tebingnya yang curam. Berebut menjangkau pantainya yang teduh.

Lalu kita memetik ranumnya strawberry liar, atau menghirup segarnya mata air telaga. Seperti Siti Hajar memuaskan dahaga para pengelana dengan seteguk air zam-zam. Kita duduk berjajar di hijau rerumputan. Memandang nelayan melempar jala di atas perahu jukungya yang tak berlayar.

Mungkin pelataran candi arjuna lebih menarik perhatianmu? Di sana kita bisa saling bertukar cerita tentang sejarah anak manusia. Atau tentang lingga dan yoni. Dipeluk gigil kabut yang melenakan mata.

Atau, kita bisa berkemah di puncak sikunir. Berharap mencecap keindahan surga. Kita duduk bersama ribuan pengelana. Menatap hadirnya sang surya menebar asa.

Istirahlah di sini, di sampingku. Di mana lagi kan kau cari surga itu? Tak usah kau jelajahi pelosok negeri. Surga yang kau cari, hanya bisa kautemukan di hati.

Sepucuk Surat Terbuka Untukmu Sahabat

Karya: Umi S. Sodwijo
'kan kukirimkan ruhku mengunjungimu
jelajahi bumi Siliwangi
hingga terpenuhi cawan-cawan rindu
dengan hangat senyummu'

Kalau kau baca surat ini, entah di mana, di tempat pertapaanmu
mungkin belantara beton New York, hiruk pikuk Sillicon Valley;
pucuk tertinggi pegunungan Alpen, atau di pembaringanmu yang hangat
:kaki Sindoro - Sumbing.

kau pasti ingat, itu penggalan puisi yang kutulis untukmu
terkirim lewat email, berpuluh musim yang lalu
Ayolah, kau pasti akan mengingatku
karena hanya aku yang memanggilmu dengan sebutan
yang terpilih dan terkasih

Boleh saja kau bersembunyi dariku
bahkan mesin pencari terhebat, tak mampu mengeja namamu
tapi aku selalu berhasil menemukanmu
kulihat kau berjalan terburu-buru
di bawah barisan pohon maple yang meluruhkan daunnya
seperti biasa, kau berhasil menangkap sehelai daunnya yang berwarna merah, lalu kau remas

kali lain aku berhasil menemuimu
dalam gigil musim dingin
tubuhmu terbungkus sweater tebal
pipimu terlihat memerah
seperti gadis-gadis di Dataran Tinggi Dieng

Kujajari langkahmu
apakah kau tidak merasakan, kita seperti sedang berjalan dalam sunyi
di bibir kawah Tangkuban Perahu

kau, yang terpilih dan terkasih,
mungkin diam-diam telah menemuiku
di belantara jejaring sosial, bahkan
mungkin kita telah berteman
ah.. itu tak penting!
karena bagimu,
persahabatan kita bukan antara dua raga
tapi dua jiwa, yang tak terbelenggu
kungkung ruang dan waktu

Atau...
kau tlah berhasil menghapus ceritaku
dari buku kehidupanmu?
seperti jejak langkah kaki
tersapu gigil angin di tepi Missisipi

Entahlah...
yang kutahu edelweiss kan tetap mekar
dalam peluk gigil puncak mahameru
dan musim semi akan tetap menjamah
penghujung musim dingin yang panjang

tunggu aku,
kan kembali kukirimkah ruhku
mengunjungimu di awal musim semi yang akan datang
berharap temukan senyummu
masih sehangat mentari pagi

mungkin kita bisa sekedar bercerita
tentang pengembaraanmu di daerah barat yang liar
seperti Laura Inggalls, mengembara dari rimba besar ke prairie
atau tentang petualangan Winnetou
sambil meneguk secangkir teh nasgitel

Oya, kalau sempat mampirlah ke rumahku
kau bisa temukan dengan mudah
asal jemarimu tak terlalu kaku
tuk mengeja namaku
Sekian surat dariku,
aku yakin kau akan tahu ini dari siapa
karena hanya aku yang memanggilmu
yang terpilih dan terkasih

Wednesday, March 26, 2014

Kau dan Aku

ambilah kembali kemudi
kaulah nahkoda yang kutunggu
lelah jiwa lelah raga
arungi lautan lepas
menerjang gelombang

lihatlah bahtera kita
terombang-ambing tak tentu arah
tanganku tak cukup kuat
arungi samodra seorang diri
sedang gemintang terlupa
tunjukkan arah

lihatlah
pusaran
coba luluhlantakkan
harapan
kandas

bertahan
Kau dan Aku

bertahanlah
lihat ke cakrawala
masih ada cahaya
mengintip malumalu

Bogor, 020314